Feel Good dengan Santri Al Mizan

1 comment

Posted on 19th November 2009 by Kurt Zen in Catatan Lain

,

creativity2Mengunjungi Pondok Pesantren Al Mizan, Desa Cibolerang, Majalengka sangat berkesan. Silaturahmi ini dalam rangka monitoring  rutin dari International Center for Islam and Pluralism (ICIP) dalam program Open, Distance and e-Learning (Odel) kerjasasama dengan Ford Fondation, akhir November 2009 (Selasa, 17/11) .  Setelah diterima dan disambut dengan baik oleh pimpinan pesantren, pengelola dan beberapa santri. Akhirnya sampai shalat maghrib, saya mendapat kehormatan untuk berbicara kepada para santri Al Mizan.  Tidak banyak saya katakan karena sesuai permintaan untuk memberikan motivasi.

Degh!, saya merasa belum siap ngomong waktu itu, namun karena kondisi saat itu selesai shalat maghrib, dan para santri disuruh tetap duduk . Mereka saya pikir akan mengikuti pengajian rutin setiap malam, ternyata tidak. Pak Kyai Zaenal, sebagai imam shalat maghrib itu langsung berbicara dan mengenalkan saya dan tanpa ba bi bu, saya didaulat untuk memberikan ceramah motivasi dan tanya jawab.

GLEK!, serba salah…. saya tidak bisa menolak sebab kunjungan silaturahmi ini sifatnya resmi dan atas biaya kantor (IICIP) heheh. Bukan itu saja, Kang Zaenal, sebagai pimpinan pesantren itu mengatakan kalau saya juga pernah mondok di Buntet Pesantren. Ya sudahlah bismmillah sambil duduk memandangi mereka lalu berbicara dengan penuh kesadaran kalau saya sedang berbicara di depan anak-anak sekolah menengah.

Dalam suasana damai di mushola itu, saya berbicara pembukaan sekitar 7 menit dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab menjelang Isya. Anak-anak terlihat memandangi saya dan saya menangkap sotoran mata mereka berbinar. Entah apa maksudnya apa karena tertarik dengan materi yang saya sampaikan atau juga karena heran dengan saya yang waktu itu mengenakan celana jeans biru serta baju merah sementara mereka berkopyah sarungan dan mukenah satu warna.

Kehidupan santri Al Mizan terbilang nyaman. Suasana pondok yang cukup luas (> 10 hektar) namun yang baru dimanfaatkan sepertiganya itu memberikan suasana yang alami dan kondusif bagi suasana belajar. Ditambah sarana dan fasilitas sambungan teknologi informasi sumbangan dari ICIP kerjasama Ford Fondation, semakin memberi angin segar bagi anak-anak santri di situ.

Belum lagi kharisma kyai muda seperti KH. Maman Imanulhak yang cukup di kenal baik di pentas nasional maupun daerah dan juga Kyai Zaenal  sebagai Pimpinan pondok, di mata santri dan warga juga begitu dihormati. Mereka berdua bahu membahu dan bersemangat besar untuk terus mengembangkan Al Mizan agar lebih eksis di masyarakat. Berkali-kali pesantren ini sering dikunjungi oleh tamu-tamu dari luar, sering berbakti sosial,  bahkan gabungan seniman tenar di Jakarta pernah ikut mukim beberapa hari. Ditambah lagi pesantren ini sering menghiasai laporan utama koran daerah, baik Majalengka maupun Cirebon. Bahkan kompas juga pernah memuat profil pesantren ini.

Di sisi lain, meskipun santri Al Mizan belum banyak seperti pesantren lain, namun untuk pesantren yang tergolong baru ini, sudah memiliki santri lebih dari 100 anak yang mukim dan ratusan santri yang tidak mukim ikut sekolah di sini, sudah menujukkan jati diri pesantren yang cukup diperhitungkan.

Apalagi sekarang setelah bekekerjasama dengan ICIP dan Ford Fondation dalam pengenalan dunia ICT di pesantren, semangat pengelola dan santri dalam memanfaatkan potensi ini begitu besar. Kemudahanpun didapatkan oleh pesantren ini. Misalnya, dengan diterbitkannya buletin Al Mizan setiap tiga bulan sekali, dan juga hadirnya internet website resmi yang terus menerus diupdate membuat semangat para pengelola dan juga pemerthati pesantren ini.

Tidak heran kemudian, banyak kegiatan sosial yang telah dilakukan bekerjasama dengan lembaga dan berbagai kajian dengan komunitas lain dalam rangka bakti sosial kepada masyrakat.

Bahkan tantangan Al Mizan kini bertambah, setelah Pusat Kegiatan Belajar Masyakakat (PKB)  Al Mizan yang telah berhasil disetujui dan mendapat SK dari Diknas, kini telah dipecaya oleh Diknas setempat untuk mengelola Pendidikan bagi masyrakat yang lebih luas lagi. Sehinga tantangan ke depan bukan saja berbicara pesantren dalam konteks agama, tetapi berbagai keterampilan lain seperti jahit menjahit, seni, tulis menulis, perbengkelan dan berbagai keterampilan lokal lainnya, menjadi tantangan lembaga ini.

Sebab itulah garapan dari PKBM. Namun begitu, Kyai Zaenal sebagai piminan merasa percaya diri sebab SDM di pesantren ini semuanya siap mendukung kegiatan keagamaan dan kemsyarakatan. Modal-modal itulah yang dianggap akan mampu mengahalau tantangan  ke depan. Karenanya, kang Zaenal merasa bersyukur atas dukungan ICIP ini pesantren semakin berkembang dan semoga akan terus berlanjut sehingga menjadi pesantren besar.

Trigger

Dari hasil monitong selama siang hari itu, saya merasa mendapat bahan yang paling penting untuk disampaikan kepada para santri yang waktu itu sudah berkumpul dan duduk rapih setelah shalat maghrib. Dari urian di atas ternyata background pesantren ini begitu besar dan itulah yang kemudian menjadi  trigger (pemicu) untuk berbicara kepada anak-anak bahwa potensi pesantren sedemikian besar dalam rangka mengembangkan SDM.

Karenanya, saya tidak perlu banyak bicara, singkat saja, sebab tinggal bagaimana mendorong santri bagaimana menitik beratkan kepada mereka untuk memperhatikan masa depan dan meraihnya dengan penuh kesadaran dari sekarang tanpa terbebani oleh faktor kemiskinan misalnya. Sebab tidak jarang santri di sini, ada yang berasal dari keluarga layak bantu.

“Anak-anakku yang tercinta,”  begitulah saya menyapa mereka di awal kesempatan berbicara…. ” Saya sangat senang hadir dalam suasana damai di mushola pesantren ini bersama kyai Zaenal dan tentu saja di depan adik-adik yang cantik-cantik dan manis-manis semuanya.”

“Amiinnn…. teriak mereka sambil memperlihatkan giginya.”

Adik-adik yang manis, apakah kalian sudah menggambarkan apa cita-cita di masa depanmu.  Apakah adik-adik semua sudah memiliki gambaran misalnya 10-20  tahun kedepan itu bakal menjadi apa dan dimana suasanya.

Saya ingin menegaskan kepada para santri bahwa dunia masa depan harus digelorakan dari kecil dan difokuskan dari sekarang. Baik agama maupun para ahli psikologi mengungkapkan bahwa dunia ini ada dalam genggaman kita, tinggal bagaimana menikmati masa depan itu sesuai dengan perasanaanya. Seperti kutipan berikut ini:

Saya juga menekankan kepada anak-anak untuk mengelola alam perasaan agar lebih baik lagi jangan sampai tidak diperhatikan. Positif Feeling itu sangat dianjurkan agama. Sebab dengan positif feeling akan melahirkan positif thinking dan lebih fokus serta menimbulkan rasa lega, bahagia dan menikmati proses kehidupan dengan penuh kesadaran.

“Kalau adinda ingin jadi dokter, silahkan bayangkan kalau kamu benar-benar telah menjadi dokter, atau menjadi kyai yang sangat alim dan bersahaja. Atau juga ingin menjadi orang yang sukses dalam usaha. Menurut para ahli psikologi, semuanya akan dengan mudah diraih, kalau kita sudah mencatat dalam alam bawah sadar (hati) sejak sekarang Insya Allah, adik adik akan menjadi itu dengan penuh keyakinan. Tentu saja semuanya itu dimintakan dengan yakin dan mantap  kepada Allah swt, tanpa kepada yang lainya.  Dengan memasraahkan cita-cita yang sudah digambarkan itu kepada yang Maha Kuasa, maka pikiran akan menjadi fokus pada pelajaran, kegiatan dan dengan otomatis akan menghalau kegiatan yang kurang produktif, buktikan!.”  kata saya dengan penuh semangat 45 heheh.

Kemudian saya juga menjelaskan bahwa alam perasaan (hati) ditempati oleh rasa iman, kepercayaan, sabar, tawakal, ikhlas, tulus hati dan lain-lain semuanya itu menempati dunia hati bukan akal pikiran. Karena begitu pentingnya alam perasaan maka saya juga menekankan kepada anak-anak untuk mengelola niat dengan baik.

Niat dalam hati harus terus diupayakan lurus sehingga nilai dari sebuah niat itu tetap berada dalam alam perasaan (alam bawah sadar) bukan dalam alam fikir (alam sadar). Sebab alam fikir, menurut buku Quantum Ilhkas karya Erbe Sentanu, Perasaan merupakan aset utama manusia, kapasitasnya 88% sedangkan 12% adalah alam sadar seperti otak.

Di akhir lalu saya menegaskan sekali lagi kepada anak-anak untuk menggambarkan masa depan dari sekarang agar lebih fokus dalam belajar guna meraih cita-cita. Alatnya adalah dengan positif feeling yang tetap berada di hati. Saya katakan insya Allah kalau mampu melatih alam bawah sadar (alam hati) dengan positif feeling maka cita-cita itu akan semakin nyata di depan mata. Kemudian saya kutipkan sebuah kata menarik berikut ini:

Di akhir sesi dua anak santri SMA dan MTs itu bertanya seputar mengelola pentingnya positif feeling dan tentu saja saya pun tinggal memberikan jawaban yang meyakinkan pada mereka. Alhamdulillah saya pun mengucapkan syukur bisa lancar menemani obrolan bersama santri.  Tiba-tiba saja saya pun memiliki feel good mereka

Enter Your Mail Address

No related posts.

Post comment as twitter logo facebook logo
Sort: Newest | Oldest

sangat luar biasa, bisa memberikan dorangan dan motivasi kepada para santri al- mizan, salam buat kang kyai zenal dari subang, god luck........

-----------------------
Iya pak Iwan, terima kasih mmapir ke mari.