“Adversity reveals genius, prosperity conceals it.” — Horace
Kawan netter sekalian, menurut saya quote di atas sangat inspiratif, bahwa kesengsaraan mewujudkan kejeniusan, sementara kekayaan menyembunyikannya. Contoh nyata bagaimana negeri Bangladesh mengentaaskan kemiskinan lewat program sederhana.
Bagaimana mengatasi kemiskinan di Bangladesh seperti diceritakan di Blog Aditya Kurniawan sangat menarik hati saya. Apa yang diceritakan sangat sederhana bagaimana warga miskin Bangladesh berubah menjadi warga yang produktif, inovatif dan memiliki kekuatan untuk berubah. Kini negeri berpenduduk 158,065,841 (July 2010) menjadi negeri yang penuh perubahan.
Sebelumnya, negeri yang penduduknya 89% Muslim itu termasuk negeri miskin. Penyebabnya pertumbuhan tumbuh 5-6% per tahun sejak tahun 1996, bandingkan dengan Indonesia hanya 4% , pada semester 2009 melambat dari 6% + pada 2006. (GeoFact Book)
Persoalan di Bangladesh juga sama, karena ketidakstabilan politik, infrastruktur negera yang buruk, korupsi, dan reformasi ekonomi yang diwujudkan sangat lambat. Akhirnya Bangladesh tetap menjadi miskin, kelebihan penduduk, dan tidak efisien-sistem pemerintahannya. Meskipun lebih dari PDB dihasilkan melalui sektor jasa, sekitar 45% dari Bangladesh bekerja di sektor pertanian, dengan beras sebagai produk tunggal paling penting.
Tapi Pertumbuhan Ekonomi Bangladesh termasuk tinggi selama krisis 2008-09 keuangan global dan resesi. Ekspor Garment, sebesar $ 1.230.0000.000 (2009) dan pengiriman uang dari luar negeri ke Bangladesh sebesar $ 9.700.000.000 di (2009) ini menyumbang hampir 25% dari PDB.
Apa rahasianya?
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenapa program pengentasan kemiskinan di Bangladesh lebih mudah tercapai.
1. Tolonglah diri Sendiri
Orang Bangladesh memiliki filosofi yang cukup menantang, mereka sepakat dengan hukum tak tertulis yang berbunyi: “Kalau kamu tinggal di Bangladesh, tiadak ada yang mau menolong, jadi tolonglah diri sendiri.”
Bandingkan dengan filosofi di sini “mangan ora mangan kumpul” konotasinya mungkin tidak pas untuk masa sekarang, sebab mengandung pengajaran untuk tetap berkumpul dalam suasana suka maupun duka. Meskipun filosofi ini tidak berpengaruh signifikan bagi orang Jawa yang
2. NGO/LSM Peduli Kemiskinan
Lembaga Swadaya Masyarakat di Bangladesh diakui sukses membantu warga miskin di sana. Contohnya, program kredit mikro dari Grameen Bank yang dimotori Muhammad Yunus. Progam ini terbukti berhasil dan M. Yunus mendapat hadiah nobel 2006. Satu lagi LSM BARC (The Bangladesh Agricultural Research Council) yang banyak kerjasama dengan berbagai departemen misalnya dengan Departmen Pertanian banyak mengeluarkan penelitian untuk dunia pertanian.
LSM ini pun membuat bank yang unik cara kerjanya. Bank meminjamkan modal tanpa agunan kepada masyarakat yang mau berbisnis. Lalu sebagai jaminannya bukan barang, tetapi orang yang siap menjamin kelangsungan pengembalian kreditnya. Mirip donatur tapi dalam bentuk kredit. Dan ini cukup berhasil mengangkat derajat eknomi warga di sana. Begitu sederhana, mendidik dan tetap bertanggung jawab.
3. Belanja Pendidikan Kecil tapi Efektif
Anggaran pendidikan di sana cukup kecil dibanding Indonesia. Sebesar 2.7% dari PDB 2005, sedangkan Indonesia 3.6% pada tahun 2006. Namun meskipun jumlah penduduk di sana cukup padat, 158,065,841 (July 2010 est.) dari luas negara hanya 143,998 km persegi. Sedangkan Indonesia sebanyak 242,968,342 dengan menmpati areal seluas 1,904,569 km dari 17 ribu lebih pulau. Namun tanah yang sempit dan penduduk yang padat tidak menjamin sebuah kemakmuran, tetapi SDM dengan anggaran yang kecil pun mampu mengerakkan roda perekonomian.
Masih banyak faktor lain yang mendorong meningkatkan angka kemakmuran dan mengatasi kemiskinan di sana. Misalnya dukungan pertanian 80% dan digarap dengan serius oleh SDM yang ada di Pemerintahan terbukti mampu mmeledakkan jumlah ekspor dan mendatangkan income uang dollar banjir ke negara ini.
Jadi benar, ungkapan quote di atas, kemiskinan membawa kejeniusan sementtara kejayaan menyembunyikannya. Dan Bangladesh telah membuktikannya. Kapan kemiskinan di negeri saya ini bisa menciptakan program yang pas untuk rakyat dan mengatasi kemiskinan dengan segera.
Solusi ala Blogger
Saya pernah mengatakan Blogging dapat mengatasi kemiskinan bukanlah isapan jempol belaka. Buktinya ada kok. Contohnya para blogger sukses bermula dari keadaan ketiadaan, pekerjaan, PHK dan lain-lain. Misalnya Pak David dengan MWP-nya, Pak Joko dengan produk digitalnya dan juga master bisnis online lainnya. Mereka bercerita dalam sales letternya berasal dari keadaan yang menhimpit dan melahirkan karya kemudian mendulang rupiah dalam rekeningnya.
Sekali lagi, kesengsaraan tidak selamanya jelek tetapi mampu mencerdaskan individu untuk berubah. Ajaran universal Al Quran tepat sekali, bahwa dalam kesusahan ada kemudahan. Bagaimana menurut sampean?
Related posts:
