Menurut saya, kurikulum ibarat sebuah skenario. Film yang menyentuh penonton biasanya menarik. Nah, blue print pendidikan dilandaskan pada kurikulum yang menarik hati peserta didik itu. Tentu saja, semua elemen yang masuk dalam skenario mesti diperhatikan betul, antara teknik dan montasenya. So, model kurikulum Progressif-inspiratif salah satu bentuk skenario pendidikan yang kini tengah digandrungi dan bagus untuk dipraktekkan.
Apa latar belakang munculnya kurikulum Progressif-Inspiratif ini ?
Masih banyak sekolah yang menerapkan model pembelajaran tekstual, masih berfokus pada guru, dan berpegang pada buku ajar sehingga menimbulkan stagnasi, rasa bosan, dan peserta didik merasa tidak nyaman bila tidak cocok dengan kondisi atau persaingan. Karenanya, tantangannya adalah bagaimana agar pembelajaran tidak membosankan, gairah murid bertambah, semangat belajar tumbuh dengan sendirinya, dan murid menjadi subyek oriented, dimana tidak lagi tergantung 100% kepada tutor atau guru atau bahkan kepada satu buku ajar.
Maka jawaban yang tepat adalah sebuah kurikulum yang digagas dengan sedemikian rupa agar model pembelajaran itu bersifat progresif dan dinamis. Pendeknya, seperti yang diungkap oleh R Tagore, bahwa kelas yang tidak diubah gaya pendidikannya, menjadi semacam penjara bagi peserta didik. Di dalamnya tidak ada kemerdekaan dan kebebasan dalam pembelajaran.
Muhammad Yamin dalam sebuah bukunya, menyatakan bahwa sudah seharusnya model pembelajaran yang kaku segera digeser menjadi model pembelajaran yang dinamis. Caranya kata beliau, merancang satu kurikulum pendidikan yang berbasis realitas kepentingan peserta didik dan kebutuhan global merupakan sebuah keniscayaan tak terbantahkan.
Alasan penulis sangat logis dimana kelas sebagai tempat berlangsungnya transfer ilmu pengetahuan, menjadi ruang yang dinamis karena dikelola sedemikian hidup. Komunikasi antara pendidik dan peserta didik bisa berjalan secara sehat dan mendukung terciptanya satu dinamika pendidikan yang mencerdaskan.
Lalu sang penulis buku Manajemen Mutu Kurikulum ini menandai empat poin penting yang ditekankan oleh penulis:
Pertama, menghidupkan suasana demokratisasi dalam kelas menjadi satu agenda utama dalam dunia pembelajaran.
Kelas yang demokratis adalah kelas yang banyak “demo”nya dalam artian, peserta didik tidak dibelenggu hak-haknya. Peserta didik berubah menjadi subyek pembelajaran. Karenenanya mereka dibebaskan (didemokratiskan) untuk mengeluarkan pendapat. Dengan penerapan demokratisasi di dalam proses belajar mengajar, maka murid tidak lagi terjebak pada dominasi guru/tutor yang kadang mematikan daya kritis.
Pendidikan yang demokratis, menurut penulis buku ini, selalu mendasarkan diri pada paham humanisme. Ia terkait erat dengan kebebasan dan otonomi seseorang. Prinsip humanis kemudian menekankan pentingnya kebutuhan manusia secara individual. Individu memiliki dorongan terhadap aktualisasi diri dan tanggung jawab pada diri sendiri ataupun orang lain (halaman 219).
Kedua, komunikasi yang hidup antara peserta didik dan pendidik perlu terus diupayakan.
Komunikasi jelas menjadi patokan utama dalam pendidikan. Namun komunikasi yang hidup antara peserta didik dan pendidik kadang dinamis kadang tidak. Contoh yang tidak hidup adalah komunikasi satu arah. Dampaknya, persis seperti ceramah tanpa tanya jawab. Padahal jika masing-masing terlibat dalam masalah yang dibahas akan lebih menarik materi belajar yang tengah dibahas. Karenanya perlu diubah cara menjadi komunikasi dua arah atau multi arah, di mana antar murid bisa saling berinteraksi. Komunikasi yang intens ditambah saling menghargai maka akan terjadi sinergi yang dinamis.
Ketiga, selain komunikasi yang hidup, tradisi debat dalam kelas juga perlu didorong.
Debat kusir tidak baik, namun tradisi debat mengajarkan keterlibatan peserta didik dan memacu untuk menguasai. Dengan berani mendebat, artinya peserta didik setidaknya mampu menguasai sebagian atau seluruh obyek pembelajaran. Selain itu, ada semangat yang dapat memberi spirit untuk belajar lebih giat lagi, karena pendapatnya bisa dihargai atau kalau disalah bisa diperbaiki. Sebagai langkah awal, guru dapat memberikan sebuah masalah dan dipecahkan bersama oleh peserta didik. Nah, tugas pendidik di sini adalah mengarahkan mereka dalam upaya mempertajam pandangan dan pemikirannya, seperti dalam seminar sebagai moderator.
Keempat, Agar lebih komunikatif, perlunya dibangun budaya kemerdekaan berpikir dari para peserta didik.
Salah satu alasan kenapa peserta didik kurang berani berbicara adalah kurangnya budaya bebas berpikir. Di alam demokrasi sekarang ini, kebebasan berpikir perlu ditumbuhkan dalam kelas. Sebab kelas merupakan ruang terbuka bagi peserta didik dalam belajar harus terus dibangun. Hal ini untuk mempertajam kualitas berpikir, pemahaman dan kritis. Sebab tidak jarang daya kritis peserta didik mandeg gara-gara peserta didik terlalu dominan dan merasa paling benar.
Harapan penulis buku manajemen pendidikan ini agar keempat komponen dijalankan dengan baik. Kurikulum sekarang memberikan wewenang kepada pendidik agar menciptakan model pendidikan yang prograssif-dinamis. Dengan begitu, sekolah akan menjadi rumah pencarian ilmu yang sangat berguna bagi masa depan peserta didik.
Dalam kondisi demikian, maka pendidikan dengan prosesnya yang dinamis mengembalikan tujuan dari pendidikan itu sendiri dimana memanusiakan manusia. Karenanya, kurikulum yang dibangun atas dasar kepentingan dan kebutuhan peserta didik akan mampu menghasilkan wajah pendidikan yang benar-benar memanusiakan peserta didik.
Buku yang menarik ini sangat penting menjadi inspirasi para pendidik dan para pengamat. Terlepas dari kekurangan di dalamnya, tawaran adanya kurikulum progressif-dinamis menjadi kebutuhan di alam demokrasi saat ini. Semoga pendidikan Indonesia semakin maju. (01)
No related posts.

