Di masa sekarang ini, profesi guru atau pengajar bagi komunitas kota terbilang sudah mencukupi dibanding dengan guru di kampung. Apalagi guru PNS yang semakin dimanjakan dengan penghasilan yang terus menerus ditambah. Meskipun tidak sinergis dengan kualitas output dan proses pendidikan secara makro. Namun berbeda sekali dengan nasib ibu Uniah (39) dari Kampung Pringapus, Semarang, Jawa Tengah. Pagi hari menjadi guru TK siangnya harus menjadi buruh cuci piring demi menghidupi empat anak-anaknya.
Guru TK memang gajinya kecil, meski perannya cukup besar mengedukasi anak-anak usia dini baik melalui permainan maupun bujuk rayu. Peran ini sangat berat, namun “keterpaksaaan” banyak guru TK yang terpaksa melamar mengajar karena memang belum ada kesempatan bekerja di sektor lain atau di tingkat yang lebih tinggi seperti SD atau SMA.
Seperti diceritakan oleh Kompas.com, Ibu Uniah, seperti juga guru TK lainnya, ia harus pandai-pandai merayu anak-anak untuk belajar. Ia juga harus pandai menyanyi dan menari agar anak-anak usia TK betah dan mau mengikuti proses bermain sambil belajar. Begitulah Uniah guru TK Bakti Putra I Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Semarang, Jawa Tengah.
Ia menyambar tas tangan lalu menggandeng anak keempatnya, Rama (4), yang menunggu di ruangan itu. Rama masih sesenggukan. Ia menyeka hidungnya dengan tangan. Sisa air mata belum terhapus dari sudut matanya. ”Sudah, sabar, ya, Nak. Nanti saja jajannya. Belum ada uang,” tuturnya.
Ia lalu menuntun Rama berjalan kaki menuju warung makan milik Adibatun (30). Warung sederhana berdinding papan dan berlantai tanah itu terletak sekitar 20 meter dari muka Pabrik Buana Intisari Garmen di Kelurahan Pringapus, lebih kurang 1 kilometer dari TK tempat Uniah mengajar.
Seusai menyapa pemilik warung, Uniah menggulung lengan baju dan mulai mencuci piring serta perabot kotor di warung itu. Rama disuruhnya duduk di warung yang masih lengang. Selesai mencuci, perempuan asal Pandeglang, Banten, itu menggoreng tempe. ”Lumayan sudah setahun terakhir ini saya diperbolehkan bantu-bantu Mbak Adib. Ia sudah seperti saudara sendiri,” tutur Uniah.
Sebelum suaminya mencoba peruntungan bekerja di Cikarang, Bekasi, setahun lalu, Uniah membantu suaminya membuat sandal dari karet dengan penghasilan maksimal Rp 30.000 per hari.
Setiap hari Uniah datang ke warung pukul 05.30. Satu jam kemudian ia pamit mengajar. Selepas menunaikan tugasnya itu, ia kembali ke warung. Apabila masih ada waktu, ia pulang ke kamar indekos, sekitar 500 meter dari warung itu, bertukar pakaian sambil menengok Zahra (1), anak perempuannya yang dititipkan ke tetangga.
Tidak ada upah yang pasti atas jasa mencuci piring dan kerja serabutan di warung itu. Adib sesekali memberi uang Rp 5.000 atau Rp 10.000 jika hasil warung berlebih. Namun, Uniah sudah terbantu dengan diperbolehkan makan gratis di warung itu, termasuk untuk dua anaknya, Rama dan Fauzi (7).
Upahnya sebagai guru TK sangat tak mencukupi. Setiap bulan ia hanya menerima honor bersih Rp 180.000, ditambah transportasi Rp 30.000 dan uang minum Rp 20.000. Ia sedikit terbantu dengan insentif Rp 200.000 per bulan dari pemerintah yang diberikan enam bulan sekali.
Uniah mengaku suaminya setiap bulan mengirim Rp 500.000. Namun, uang tersebut habis untuk membeli susu dan kebutuhan sekolah anaknya. Ia tinggal menumpang di kamar indekos milik warga Pringapus yang iba kepadanya. Ia hanya dibebani membayar biaya listrik di kamar tersebut.
Rumahnya di Desa Pringsari yang cukup jauh dari warung itu dibiarkan kosong setelah listrik diputus PT PLN lantaran ia tak sanggup membayar tagihan.
”Saya sempat mau berhenti mengajar dan cari pekerjaan lain atau buka warung, tetapi orangtua murid menahan. Saya jadi enggak tega,” tutur Uniah yang sudah 10 tahun mengajar di TK Bakti Putra I.
Pariyati (29), guru lainnya, juga hanya menerima honor Rp 180.000 per bulan. Uang itu malah hanya habis untuk biaya transportasi dari rumahnya di Ungaran Barat menuju TK yang berjarak sekitar 10 kilometer. Saat dua tahun lalu melamar menjadi guru di sana, ia tergiur bisa diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Namun, mimpi itu kandas lantaran tidak lagi ada formasi untuk guru TK.
”Sekarang ini saya sudah enggak bisa mundur. Kalau enggak ada lagi yang mau mengabdi seperti kami ini, lalu siapa lagi yang mau,” tuturnya.
Bukan di Semarang saja nasib guru TK bergaji kecil. Di kampung saya pun demikian. Bahkan lebih parah. Jika Uniah digaji 150 ribu sebulan, maka Guru TK di kampung saya, hanya bisa digaji Rp. 30.000 se bulan. Itupun hasil patungan dari para perantau yang ada di Jakarta. Karena TK sendiri tidak memungut uang kepada murid-muridnya. Kalaupun memungut paling-paling hanya Rp. 10.000 dan itupun hasib untuk membeli keperluan alat tulis-menulis dan sebagainya.
Padahal, guru TK di pesantren besar ini tidak kurang pengabdiannya dalam mengembangkan pola asuh keagamaan kepada anak-anak. Para pelajar usia dini di tempatku itu, sudah banyak yang hafal al quran, bacaan doa-doa dan praktek berbagai keterampilan. Semuanya tidak lain karena panggilan jiwa para guru muda yang cukup berpengalaman.
Memang cukup sulit menyediakan gaji lumayan bagi pengelola pendidikan dasar terlebih bagi sebuah lembaga pendidikan tingkat kampung. Untungnya TK di kampung saya ini, memiliki akses dana dari para pemuda yang merantau ke Jakarta. Mereka setiap bulan berkumpul sekitar 20 orang, kemudian ramai-ramai patungan uang honor untuk guru TK di kampung. Lumayan dari hasil uang saweran ini bisa menggaji masing-masing guru TK sebanyak 100 ribu rupiah setiap bulan.
Gaji kecil, kebutuhan besar, namun hanya profesi sebagai guru swasta di lembaga yang kecil memang tidak bisa berbuat banyak. Karena itu, untuk mengatasinya dibutuhkan partisipasi masyarakat di sekitarnya. Tidak bisa orang sekitar cuek apalagi bagi masyarakat yang berkecukupan. Ketimbang mereka ramai-ramai berzakat melalui lembaga nasional yang hanya tinggal pencet HP via sms banking, alangkah lebih baiknya disalurkan kepada lembaga ini. Syukur-syukur dibantu segala macam kekurangannya dari mulai manajemen hingga persoalan mutu.
Saya yakin solusi satu itu saja, nasib Guru TK semacam Uniyah dan guru TK di kampung saya yang hanya digaji 30-100 ribu dapat teratasi.
By: Muhammad Kurtubi
Popularity: 6% [?]
Related posts:


