Saat tulisan ini dibuat, saya berada di warnet pinggir stasiun Cirebon sambil menunggu kereta ke Semarang berangkat pada 00:30 WIB. Dari pada bengong menunggu hingga 5 jam saya manfaatkan untuk merenungi diri di bilik warnet ini sambil mengingat seorang keluarga yang baru saja saya datangi di dearah Majelangka. Seorang tukang bangunan yang bernasib untung, padahal setahun sebelumnya ia dianggap kurang beruntung.
Mang Apin, sebut saja namanya. Ia kini telah memiliki rumah yang dianggap paling bagus di kampungnya, padahal setahun lalu rumahnya itu tergolong bangunan yang hendak roboh. Dari hasil obrolan saya denganya sore tadi, rumah itu adalah buah kesabaran dan keyakinannya kepada Allah SWT. Ia kini bisa tersenyum lega karena rumah idaman puluhan tahun itu kini berdiri kokoh dan menjadi rumah terbaik di kampungnya.
Rumahnya memang tidak seperti rumah mewah di Jakarta, namun dari halaman, bentuk rumah dan dua lantainya itulah yang membedakan rumah di sekitarnya.
Lalu dari mana ia dapatkan uang ratusan juta untuk membangunnya. Padahal ia hanya berprofesi sebagai tukang musiman. Ia dipercaya oleh keluarga besar kami . Jika keluarga kami membuat bangunan atau kontrakan, maka Mang Apin dan keluarganya selalu di panggil untuk mengarsiteki. Dari rumah mertua, kontrakan, hingga rumah saya, semuanya yang membangun adalah mang Apin. Bahkan banyak tetangga yang sudah sukses di Jakarta, saat mencari tukang untuk membangung rumah, mang Apinlah yang dipercaya. Dari cara kerja yang cepat, rikat dan akurat itu membuat ia makin sering dipanggil di Jakarta untuk membangun dan atau membetulkan rumah orang yang sudah jadi. Namun ya itu tadi, rumahnya sendiri tetap reyot dan hampir roboh tidak sempat bisa diurusi. Ya sebabnya karena uang hasil dari kerja selama ini habis untuk makan dan mengurusi keluarga besarnya juga menentunya yang masih juga menetap di sana.
“Saya tuh miris sekali, orang mengenal saya itu tukang bangun rumah, tetapi rumah sendiri reot dan hampir roboh. Di situ saya ngenes sendiri, apakah mungkin saya dapat membangun rumah seperti tetangga. Ya minimal saya mendandani jangan sampai roboh.” katanya membuka kisah awal mendapat rezeki nomplok.
Belum lagi katanya, ia harus tetap survive (tentu bukan kata mang apin yang ngomong survive
) sebab anak-anak yang sudah besar-besar itu harus terus sekolah dan paling tidak bisa mempertahankan hidup saja itu sudah untung. Tantangan yang berat sebenarnya adalah kondisi rumah yang hampir roboh itu harus dibetulkan tetapi uangnya dari mana, kenangnya.
Dalam kebingungan itu, Mang Apin rupanya memiliki sikap ikhlas dan pasrah yang tulus. Ketika cobaan itu lama mendera keluarganya, ia hanya bilang kalau itu adalah takdir dari Allah dan ia merasa pasrah untuk tidak berani melawan taqdir itu.
“Saya hanya menganggap kalau ini adalah aturan Yang Maha Kuasa, saya tidak berani menentang. Saya pasrah saja meskipun rasanya tidak mungkin punya rumah dengan kondisi seperti itu,” lanjutnya.
Namun dalam pengakuannya, ia selalu merintih di keheningan malam minta dengan penuh keyakinan kepada yang Maha Kuasa, agar dicarikan jalan keluar dari mana saja, agar supaya rumahnya yang hampir roboh itu, bisa segera dibangun dan didandani dengan layak, bukan rumah orang terus yang ia dandani.
Rintihan itu ternyata membuahkan hasil, tidak beberapa lama kemudian, mang Apin, sudah bisa membangun dan kini memiliki rumah sebesar dan sebagus ini, darimana uang didapat, saya bertanya tidak sabar.
Barulah ia membuka tabir rezeki dimana ia telah meraup keuntungan ratusan juta itu dari hasil rezeki nomplok. Saat pembangunan jalan Tol yang akan melewati kampung Bongas, ratusan hektar sawah diborong oleh PU untuk keperluan jalan tol Paliman-Kanci.
Tanah sawah yang harganya rendah sekitar Rp. 20.000 per meter oleh PU dihargai lima kali lipatnya. Sementara ia memiliki seribu meter lebih tanah sawah itu. Otomatis ratusan juta ia kantongi rezeki nomplok itu. Di kampung dia hanya tiga orang yang memperoleh rezeki nomplok itu, namun hanya Mang Apin yang sangat beruntung.
Lalu ia bercerita orang yang serakah dari proyek itu. Ada seorang cukong di kampugnya tatkala mendengar bakal ada jalan tol, si pemborong membeli sawah banyak sekali dari penduduk yang belum tahu. Ratusan juta ia keluarkan dengan harapan mendapat lima kali liptanya. Namun apa yang didapat, si kaya itu tidak mendapat sepeserpun keuntungan, sebab PU tidak membeli sawah-sawah yang dibeli oleh cukong ini. Sebab planning PU ternyata jalan sawah itu berbelok ke arah kanan sehingga tidak lurus melintas sawah saudagar yang serakah tadi.
No related posts.
