Pendidikan Berbasis Wasatan

0 comments

Posted on 11th December 2009 by Kurt Zen in Catatan Lain

, ,

relationDan demikianlah telah Kami jadikan kamu suatu ummat yang di tengah.” (pangkal ayat 143).

Sebagai guru, banyak kawan-kawan merasa prihatin dengan berbagai kelompok masyarakat yang terkotak-kotak dalam barisan golongan.  Dalam bentuk wacana, golongan atau organisasi  tidaklah  menjadi masalah, tetapi dalam skala praktis, kerapkali “doktrin” golongan ini berbenturan dengan praktek golongan lain sehingga menjadi ajang perdebatan “kebenaran mutlak”. Parahnya, doktrin ini semakin mengental dan sulit cair. Akhirnya, menjadi isu yang marak di masyarakat. Contohnya, gerakan-gerakan agama yang ajarannya tertutup tidak terbuka  kini ekses kontranya  semakin terasa.

Saya pikir pendidikan itu merupakan bagian dari agen perubahan yang sangat vital bagi generasi mendatang. Di tangan mereka transformasi budaya bangsa akan menentukan sekali. Karenan itu, pola transformasi yang dikemas dengan keterbukaan dan tidak memihak menjadi pilihan niscaya di tengah pluralitas alami yang ada di Inodnesia.

Saya mengusulkan pendidikan berbasis wasatan

Meminjam istilah Al Quran (2:143)  Sebelum menjawab ini, sebenarnya saya ingin memperjalas maksud pendidikan berbasis wasatan ini. Pengertian “wasatan” tidak lain sebagaimana Al Quran memperjelas bahwa kehadiran umat manusia sekarang ini, Allah lebih memilih umat Muhamad saw,  sebagai umatan wasatan. Karena itu, menjadi kewajiban kita untuk mengikuti perintah Allah untuk mengubah pola pergaulan masyarakat ke arah itu.

Pendidikan memegang kuncinya, dan karenanya, harus menerapkan  komponen pendidikan menuju umatan wasatan dalam setiap gerak langkah pendidikan kita. Apakah Umatan wasatan hanya ada dalam Al Quran,  tentu harus diupayakan oleh dunia pendidikan.

Sebagaimana artinya, umatan wasatan, adalah  umat yang pertengahan. Istilah wasit dalam pertandingan sangat besar perannya sebagai person yang tidak membela ke arah manapun. Istilah wasit dalam bahasa Indonesia diambil dari kata Arab “wasatan”.

Titik tekan pada ungkapan wasatan dalam tulisan ini adalah umat yang wasatan adalah mereka yang tidak memihak ke kanan dan ke kiri melain menempatkan posisi di tengah-tengah. Umatan wasatan,  merupakan kekuatan yang sangat besar bagi pertumbuhan individu.

Pendidikan wasatan karenanya sangat dibutuhkan. Pendidikan yang berbasis pada konsep dan praktis agar dapat menerima perubahan ke arah yang lebih baik. Komponen pendidikan yang ada harus di set ke arah itu. Paling tidak, sikap para guru yang bisa menerima berbagai keadaan dan tidak membelenggu para siswanya.

Ada berapa hal bagaimana menerapkan pendidikan berbasis umatan wasatan:

  1. Pendidikan yang menerapkan umatan wasatan, tidak lagi menjadi individu yang terkooptasi dengan pengaruh indiologi tertentu.
  2. Para ilmuwan adalah orang-orang secara jelas memposisikan dirinya sebagai orang yang di luar sistem. Sehingga independensinya terjaga. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas secara menyeluruh.
  3. Para siswa diajak untuk terbuka wawasan fikirnya tidak dicekoki dengan konsep-konsep yang membelenggu.
  4. Para guru bisa memberikan arahan dan bimbingan seputar batas-batas ideologi dan teologi between us and him namun tetap membuka  keterbukaan bukan menutupnya.

Umatan Wasatan dalam Kemasyarakatan

Penerapan konsep umatan Wasatan secara sederhana dalam kontek kehidupan justru dapat  memperkaya jiwa sosial kemsyaraktan dan keadilan. Hal ini berlatar belakang kepada bagaimana menghormati dan menghadapi posisi diri di sekitarnya.

  1. Umatan wasatan, posisinya berada di tengah-tengah. Artinya, ada orang  yang ditempatkan posisinya  berada di depan; mereka adalah orang yang  kita tuakan: para guru, pendidik, professor dan orang-orang yang lebih tua dari kita. Posisi kita bisa menjadi kuat, manakala mereka yang di depan itu kita hargai, kita hormati dan benar-benar  diperhatikan apa dan bagaimana kemauannya terlebih kepada orang tua.
  2. Posisi di belakang. Siapa saja yang ditempatkan pada posisi  di belakang? mereka adalah orang-orang yang berada dalam bimbingan dan tanggungan kita. Anak, isteri, murid, mahasiswa dan orang-orang yang tengah dididik dalam jalur kita. Mereka harus terus  diberi “nasehat”, bimbingan, arahan, motivasi dan pendampingan  secara kontinue dan terarah. Terlebih kepada keluarga harus disantuni terus menerus dengan kemampuan harta kita.
  3. Posisi  yang berada di samping. Mereka adalah orang-orang yang sebaya dan selevel dengan kita. Kemampuan mereka, pengalaman dan berbagai macam ide mesti kita perhatikan dan dingarkan. Kadangkala orang di samping lebih pengalaman sehingga bagus untuk dimintai saran. Orang disamping juga dijadikan sebagai partner dalam bermusyawarah, berdiskusi dan ta’aruf. Kawan, lama, kawan baru, tetangga lama atau baru, semuanya menjadi partner kehidupan dan kita ada karena mereka ada. Adanya mereka menentukan langkah kita yang di tengah -tengah ini.
  4. Posisi Yang Di atas. Ini yang paling penting. Maksudnya tidak lain adalah Tuhan yang menciptakan dan yang memberikan karunia kehidupan itu sendiri. Apa dan bagaimana posisi kita di hadapan Tuhan tergantung dari bagaimana intensitas kita menjalin hubungan. Kekuatan vertikal ini menjadi poros kehidupan jasmani dan rohani, juga menentukan relasi hubungan dengan dirinya sendiri, sikap pandang dan penghargaan.
  5. Posisi di bawah. Hal ini menjadi penentuan akhir dari semua hubungan. Posisi di bawah adalah posisi di mana kita ditempatkan di akhir hayat. Tanah. Kuburan. Si tanah tentunya akan menerima orang yang harmonis pola relasinya apakah benar-benar berada di tengah atau justru berat sebelah. Ini sangat menentukan.

Dari ke empat macam hubungan itulah yang saya maksud dengan memperkuat dan memperokokoh jalur pendidikan berbasis umatan wasatan. Karenanya, konsep kurikulum yang didirect  kepada menuju keharmonisan  ke-4 arah  tersebut maka yakin ilmunya akan bermanfaat.

Para guru sebagai insan yang sangat menentukan dalam proses pendidikan di sekolah dan tempat belajar liannya juga tidak bisa lepas dari konsep pola hubngna umatan wasatan.

Guru yang dihormati oleh muridnya, sementara pak guru yang menjalin intensif dengan kawan selevel, membimbimbing terus muridnya serta kepada kelaurganya berhubungan baik, dan kepada Tuhan begitu intens, maka dipastikan guru seperti inilah yang patut di dorong untuk terus  mewarnai kehidupannya.

by: Muhamad Kurtubi

Enter Your Mail Address

No related posts.

Post comment as twitter logo facebook logo
Sort: Newest | Oldest