HUBUNGAN antara Islam (santri) dan Barat kini telah mengalami kemajuan yang berarti. Itu disebabkan karena ilmuwan Barat lebih banyak bersinggungan langsung dengan dunia Islam, baik zaman dahulu maupun sekarang. Begitu juga umat Islam mulai melihat kenyataan bahwa keterbukaan dan pengakuan bahwa sains ada di Barat. Tulisan ini hendak menanggapi tulisan kawan saya, (Belajar ke Barat siapa takut?)Kawan kita, Jajang Jahroni, Dosen UIN, santri lulusan Buntet Pesantren kini tengah studi Antropologi di Boston University, Amerika Serikat. Itu adalah contoh kecil. Masih banyak Jajang lainnya, ratusan mungkin juga ribuan santri dan semi santri yang pergi ke kampung “Mamang Sam” atau ke negeri Eropa, guna memperdalam keilmuanya.
Ada sebagian kalangan yang mencurigai kalau ada yang studi di Barat. Padahal kita mengakui bahwa keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi ada di sana. Pemanfaatan selanjutnya adalah untuk kemanusiaan, ksejahteraan, dan kedamaian dunia. Ilmu pengetahuan tidak layak dihadapkan dengan masalah politik dan persoalan conflict of interest. Para mahasisawa yang belajar di Amerika dan daratan Eropa berbondong-bondong menimba ilmu pengetahuan dan sepulangnya dari sana, mereka tentu akan terbuka wawasan pikirnya dan melihat Indonesia dengan segala pernik-masalahnya itu berdasarkan kajian ilmiyah bukan emosional.
Mungkin dianggapnya, mereka mencurigai bahwa peradaban Barat itu bebas, serta pengaruh ideologi yang berjauhan akan memengaruhi kualitas dan originalitas keislaman kita. Dari dugaaan ini kemudian lahir tuduhan yang “norak” bahwa sarjana Barat dari kalangan santri itu dicurigai sebagai agen zionis di Indonesia. Kita masih ingat tuduhan itu dilayangkan misalnya kepada Gus Dur, Cak Nur dan tokoh lulusan sana. Tapi Anehnya, kepada Amin Rais jarang sekali orang menuduhnya. Padahal ia lulusan Barat juga. Sedangkan Gus Dur, kalau tidak salah lulusan Baghdad, di Timur Tengah (bener gak nih?).
***
Jika mau jujur, sebuah akar masalah atau sentimen paling mudah disulut. Ibarat menyulut api ke bensin, langsung berkobar “mulad-mulad”. Sementara faktor pengikat cukup sulit dikedepankan. Padahal jika mau, masih banyak unsur-unsur bersatunya Barat dan Islam itu bisa terwujud. Untuk bersama-sama menjaga bumi agar lebih damai, sejuk adil dan sejahtera. Tidak bisa hanya dengan satu partai adil atau partai sejahtera. Itu semua jika mau….
Pertama,
komunitas agama dunia: Islam, Yahudi, dan Nasroni, semuanya berasal dari para Rasul juga. Jika perasaan ini yang dikedepankan, niscaya sentimen antar agama akan sirna lalu bisa menumbuhkan hubungan saling kait (silaturahmi). Bukankah rukun iman kita mensyaratkan percaya kepada kitab-kitab selain Al Qur’an?
Dari rukun iman saja, kita diajarkan untuk percaya adanya kitab lain. Hikmahnya, bisa mendorong orang untuk memperdalam study agama dan ajaran-ajarannya yang lebih komprehensif. Sayangnya, peran studi agama ini telah lebih dulu didominasi sarjana-sarjana Barat jadul (jaman dahulu). Sehingga lahirlah peradaban Barat yang maju berkat study para sarjana “jadul” itu. Jangan lupa kejayaan ilmuwan Islam itu kini, telah hijrah ke Barat hingga kini. Itu semua berkat study keagamaan orang-orang Barat dahulu. Terbukti, merekapun open terhadap Islam meskipun mereka tetap tidak menganut agama Islam.
Karena itu untuk zaman sekarang, jika saja para santri bisa study di sana boleh jadi, keilmuwan Islam yang telah mampir di Barat itu, bisa menetes kembali. Sehingga ibarat kali, sumbernya tetap bersal dari Islam-islam juga.
Bahkan jika dirunut lagi, sarjana muslim jadul pun mengambil ilmu dari Yunani lalu dipadukan dengan wahyu Al Qur’an. Sehinggalah kesempurnaan pemikiran Yunani itu dipoles dengan Islam masa lalu sehingga mencapai zaman keemasan. Lalu oleh Barat zaman sekarang, segala teori, asumsi dan hasil penelitian zaman keemasan Islam masa itu disempurnakan kembali.
Akhirnya, kemudian diproduksi massal di negeri Barat kini. Anda bisa menyaksikan bagaimana pola keilmuan Barat itu mampu melahirkan kecanggihan teknologi yang membikin “mlongo” umat Islam.
Kedua, Studi Islam yang dilakukan oleh Barat kini telah berubah. Menurut KH. Dr. Tarmidzi Taher, distorsi tentang Islam di kalangan Barat semula berasal dari misinformasi dan kekeliruan pemahaman terhadap ajaran Islam. Namun
kini, seiring semakin seriusnya para sarjana Barat mengikuti jejak pendahulunya, maka “sedikit demi sedikit pemahaman Barat akan Islam lebih luas. Hal ini terlihat dari pendekatan yang lebih sistematis dan ilmiah dalam studi Islam.” Kata Tarmidzi. Dari dasar inilah menurutnya, berbagai universitas di Amerika dan Eropa semakin populer saja.
Di Amerika, misalnya Universitas McGill Kanada, Universitas Chicago, Univ. Columbia, Michigan, Princeton, George Washington dan Temple serta lainnya. Studi Islam di situ, konon makin populer dan banyak sarjana muslim termasuk para santri memperdalam studinya. Juga di Eropa misalnya, Universitas Sorbonne, Oxford, Cambridge, Heidelberg dan Leiden sudah berabad-abad berdiri dan studi Islam dan sains makin digemari.
Ketiga, Kita hidup dalam entitas bersama: Satu bumi. Jika saja ada bumi Islam dan bumi agama lain mungkin dianggap aman dan damai. Tapi kan tidak! “Dunia Islam dan Barat sama-sama menghadapi masalah yang serupa bagi kita semua: Bagaimana kita beradapatasi terhadap perubahan dalam masyarakat, bagaimana kita menolong kaum muda yang terasing dari orang tua dan nilai-nilai kemasyarakatan mereka, bagaimana kita menghadapi AIDS, obat terlarang, dan kebobrokan keluarga” kata Pangeran Charles. (Islam and The West, h. 22, diterjemahkan oleh Dr. Tarmidzi Taher).
Keempat,
Ada di antara kyai Buntet yang menasehati kawan saya, katanya, agar kamu bisa maju dan sukses, hendaklah merantau. Dalam bahasa Agama merantau adalah berhijrah. Sebagaimana hijrah Nabi saw dan para sahabatnya. Ternyata dengan berhijrah kita tahu, berdampak yang luar biasa dalam perkembangan sejarah berikutnya. Padahal Madinah saat itu, belum “Islam”. Namun karena pengaruh akulturasi, budaya Madinah lama-lama berubah drastis hingga menjadi masyarakat yang egaliter, toleran dan sangat menghargai satu sama lainya. Hingga ketertarikan kabilah (suku-suku) seperti Rabiah, Mudhar, Aus dan Hazjraj kepada Islam begitu besarnya.
Ini mirip dengan kejadian yang menimpa penduduk Amerika. Bisa dilihat dengan jelas saat peristiwa 11 September lalu, membuat sebagian besar bangsa Amerika memusuhi Islam. Namun dibalik itu, ada rasa penasaran terhadap Islam itu sendiri sehingga memancing banyak orang ingin mengetahui what happened in Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, banyak berita menuturkan bahwa di daratan Amerika banyak orang-orang yang butuh informasi tentang Islam itu sendiri. Hal ini, bisa dimulai dari para teolog, saintis juga para pemikir. Orang-orang intelektual ini ingin belajar sendiri apa dan bagaimana Islam di balik semua ini. Benarkah Islam itu kejam, apakah berbeda antara ajaran dengan orang Islam itu sendiri, bagaimana mungkin agama mengajarkan kekerasan, apakah motif dibalik semua kekerasan atas nama agama itu lahir dari sebuah ketidak adilan tatanan dunia. Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dari para pemikir di sana.Tidak heran jika kemudian banyak orang yang ingin melihat secara langsung isi kandungan ajaran Islam itu sendiri: Quran.
Kelima,
Konon, kalau tidak salah dari tulisan Muhaimin Iskandar, sekarang study Islam orang-orang Barat mulai tertarik kepada Islam ala Indonesia bukan kepada negara Arab lagi. Sebab katanya, Islam di Indonesia yang mayoritas didominasi kalangan santri sangat berbeda kultur namun bisa bersatu padu. Sementara di Arabia sana, cenderung “berantem” terus dan hanyalah satu komunitas ideologi saja yang mendominasi.
Ini kesempatan bagus seandainya, para santri yang cerdas-cerdas digiring untuk study ke Barat, Timur, Utara atau Selatan. Sehingga nilai-nilai Islam ala santri bisa tersebar di seantero jagad. Jangan hanya berkomunity seputar pesantren saja. Hendaknya, adalah diantara santri itu menguasai sains dan teknologi. Jangan hanya study tentang pemikiran Islam saja.
Sebab jika berpikir terus kapan prakteknya? Bukankah syariat kita mengajarkan praktek bukan teori. Karena itu, setelah santri belajar fikih madzhab di pesantren-pesantren hendaknya ganti belajar fikih riset; dari fikih tentang najasah ke fikih sains; dari fikih ushul ke fikih teknik ; dari fikih ibadah ke fikih bisnis dan lain-lain. Bukankah semua itu masuk dalam kategori syareat?
Keenam,
ajaran Islam seolah mendukung upaya bagaimana agar kita bersinggungan dengan budaya lain. Misalnya dalam Surat Hurajat 13: ” dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Hujarat: 13).
Sungguh naif jika ayat ini berlaku hanya untuk pernikahan saja. Namun bukankah “pernikahan” dalam kebudayaan pun juga bisa. Sehingga antara Islam santri dan budaya Barat bisa saling tukar menukar dan saling isi-mengisi, dan saling bersimbiose mutualisma. Sementara urusan takwa hanyalah Allah yang mengetahuinya. “…Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An Najm: 32)
Dan masih banyak lagi unsur-unsur untuk mendukung dua budaya agar saling bersimbiosis. Silahkan dilengkapi … Akhirnya, mari kita untuk selalu mengedepankan sikap menghargai karya orang lain, tanpa melihat siapa yang berbicara, tapi karya apa yang ditampilkan. Ini mirip dengan pesan Sayyidina Ali kw. “undzur maa qola, walaa tandzur man qola”, lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang berbicara. Atau seperti yang dikatakan oleh CS Lewis, “We are what we believe we are.” ( C. S. Lewis) Bagaimana menurut sampean? Wallahu a’lam.
by: M. Kurtubi (Kurt)
Related posts:
